Cara Beternak Belut Sawah

Cara Beternak Belut Sawah – Belut sawah, moa, atau lindung (Monopterus albus) adalah sejenis ikan anggota suku Synbranchidae (belut), ordo Synbranchiiformes, yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi. Ikan ini dapat dimakan, baik digoreng, dimasak dengan saus pedas asam, atau digoreng renyah sebagai makanan ringan. Secara ekologi, belut dapat dijadikan indikator pencemaran lingkungan karena hewan ini mudah beradaptasi
Berikut Tata Cara Beternak Belut Sawah sebagai Berikut
  1. Carilah lumpur sawah yang dominan berwarna abu- abu dan di permukaan tanah / lumpurnya banyak mengandung sisa-sisa kotoran cacing lor sawahnya ( tahi cacing).
  2. Pastikan dengan menanyakan kepada petani yang memiliki sawah tersebut, apakah disawahnya terdapat banyak belutnya dan ukurannya besar-besar ? Apakah banyak pencari belut (ngobor) disawahnya ? Kalau memang jawabannya “ya” berarti lumpurnya potensial dan cocok sebagai media kehidupan belut.
  3. Carilah jerami yang di bagian “batangnya”, jangan pada bagian tangkai bulir padi, karena batang padi lebih cepat membusuk dibanding dengan tangkai bulir.
  4. Untuk mempercepat proses Bokashi, jerami dan gedebog, dicacah semakin halus semakin baik karena mudah busuk. Kalau perlu untuk jumlah banyak sebaiknya di Chopper dengan mesin yang punya pisau khusus. Hasil bokashi hendaknya dipisahkan antara yang sudah jadi dan serat-serat yang belum jadi secara sempurna dengan cara diayak memakai ayakan pasir. Nantinya serasah – serasah yang belum jadi sempurna kita bokashi sekali lagi. Hasil Bokashi bisa disimpan dalam jangka waktu lama (sampai 1 tahun) asalkan dimasukkan kedalam karung dan ditimbun ditempat yang kering dan jangan lembab. Sebaiknya dasarnya di kasih pallet biar karungnya tidak bersentuhan langsung dengan tanah (biar tidak lembab).
  5. Untuk menghemat pembelian Probiotik. Biasakanlah membiakkan bakteri (probiotik) dengan cara membuat biang sendiri. Bahkan bakteri ini dapat berkembang biak sampai pada F5, namun efektifnya / bagusnya sampai dengan F3.Yaitu dengan cara memperamnya dan memberi makan Bakteri tersebut dengan Glucosa, seperti gula pasir / merah atau tetes tebu (Molase) maka bakteri dari jenis Lactobacillus sp akan berkembang biak menjadi bermilyar-milyar jumlahnya. Setelah itu baru dipakai untuk bokashi atau campuran jamu. Jadi dengan cara ini kita cuma membeli beberapa botol Probiotik untuk kolam kita yang sangat luas
  6. Carilah Gedebog pisang yang tidak “busuk”, karena gedebog yang busuk akan sulit dicacah. Gedebog yang sudah membusuk serat yang berbentuk seperti benang akan lebih ulet dibanding dengan yang masih segar.
  7. Lakukan “Bokashi” diluar terlebih dahulu terhadap bahan-bahan yang mengandung selusose (karbohidrat) maupun lemak, seperti jerami dan gedebog pisang. Karena proses dari fermentasi akan potensial menghasilkan gas Methan (CH4) yang sangat berbahaya. Ini sangat meracuni belut, dan hasil sampingnya juga terbentuk CO2 yang dapat megurangi O2 dalam media kolam. Dengan Bokashi diluar kita bisa mengeluarkan gas-gas methannya dan energy panas akan keluar bebas ke udara.
  8. Media jerami dan gedebog yang sudah dibokashi dengan sempurna hendaknya sebelum digunakan dimasukkan dalam karung dan direndam (dicuci) beberapa saat dengan cara diinjak-injak atau dipukul-pukul agar air yang berwarna kemerahan atau hitam (H2S nya bisa keluar). Setelah agak berwarna kecoklatan atau jernih, jerami kita pakai dan kita susun berlapis- lapis dalam kolam pemeliharaan.
  9. Jangan mendirikan kolam terpal dekat dengan pohon kelapa, karena akar pohon kelapa yang tajam-tajam dengan mudah melobangi terpal. Untuk menghemat terpal agar tidak dilubangi oleh semut, hendaknya setelah panen, terpal harus segera dicuci dan dimasuki air / digenangi air sampai penuh
  10. Maksud diberinya air pada media budidaya belut dengan ketinggian 5 ~ 10 cm diatas permukaan lumpur adalah untuk pemeraman dengan maksud untuk mempercepat proses Fermentasi yang bersifat Anaerob (tidak membutuhkan O2). Sehingga hasil nutrient yang terdepat di jerami dan gedebog segera dapat dimanfaatkan oleh cacing lor sawah agar berlimpah. Apabila dalam jangka waktu 2 minggu kita sudah melihat cacing kecil-kecil atau cacing rambut yang muncul banyak sekali di permukaan, bukan itu tujuannya. Tujuan kita adalah menumbuhkan cacing lor sawah yang terdapat pada media lumpurnya bukan cacing rambut atau cacing sutera. Jadi fermentasi harus dilanjutkan sampai jerami dan gedebog benar-benar hancur dan terbentuk / muncul cacing lor. Dan untuk mempercepat cacing lor keluar adalah dengan cara menusuk-nusuk media dengan galah atau menginjak-injak lumpurnya (maksudnya juga untuk memasukkan O2 dalam lumpur) setelah itu air media dibikin mancak mancak saja.
  11. Untuk menumbuhkan cacing lor sawah dalam jumlah berlipat-lipat adalah dengan cara menaburkan bekatul halus lalu disiram dengan biang EM4 yang botolnya berwarna kuning. Atau pakai pupuk organic cair seperti NASA
  12. Berhati hatilah kalau mencari lumpur sawah !.a.Lumpur yang berasal dari areal sawahnya berwarna Coklat Kemerahan, biasanya mengandung unsur lempung, dan cenderung mengeras bahkan memadat kalau terendam air.b.Lumpur berasal dari areal sawah yang berwarna kehitaman , biasanya banyak mengandung pasir, lumpur ini jangan digunakan, karena dapat melukai badan belut
  13. anganlah memesan benih belut kepada penjual benih, sebelum media anda benar-benar sudah “SIAP“ untuk ditanami ! lihat syarat-syarat wajib dipenuhi sebelum tebar benih
  14. Cara lain untuk mempercepat proses “penetralan” zat kimia pada kolam semen adalah memberi “cairan cukak “ yang biasa untuk memasak pada kolam yang sudah berisi air dan direndam dalam beberapa hari sampai permukaan diatas air tersebut terdapat lapisan seperti minyak.
  15. Belilah bibit belut yang berukuran sebesar “jari kelingking”, jangan beli benih yang berukuran “sebesar lidi”. Karena semakin kecil benih belutnya semakin besar resiko kematiannya, sedangkan semakin besar belutnya maka akan semakin kuat.
  16. Belilah benih belut yang berwarna coklat kekuningan atau coklat cerah saja, karena benih belut yang berwarna kehitaman dan berdada putih sangat lambat pertumbuhannya (bisa jadi kerdil / kuntet).
  17. Yang kita harapkan setelah fermentasi adalah melimpahnya cacing lor sawah bukan cacing rambut atau cacing sutera. Terkadang petani terkecoh akan hal ini. Cacing sutera sudah mulai tumbuh setelah 1 ~ 2 minggu masa fermentasi di dalam kolam (jumlah cacing ini belum cukup untuk memenuhi jumlah konsumsi yang dibutukan bibit belut yang kita tanam). Sedangkan cacing lor sawah akan Nampak melimpah setelah jerami dan gedebok stelah mengalami pembusukan karena nutrient tersebut sebagai sumber pakannya.Jagalah air media kolam dalam kea
  18. daan jernih – bening tidak keruh. Belut tidak menyukai air yang keruh. Ingat semua lubang belut yang berada dibawah pematang semuanya ada airnya dan airnya berwarna jernih.
  19. Jagalah suhu kolam dalam keadaan “sejuk” airilah kolam walaupun dalam debit yang sangat kecil. Misalnya menaruh ember besar atau drum diatas kolam dan melubanginya sebesar sedotan aqua, air walaupun dalam debit yang sangat kecil akan sangat berpengaruh bagi kondisi kolam menjadi sejuk, menambah oksigen dan membuang amoniak dari sisa pembusukan media dan pakan belut.Biasanya dipersawahan, orang memancing belut pada siang hari tidak akan dapat hasil tangkapan, karena belutnya pada kebawah semua. Ini dikarenakan suhu air dipermukaan lebih panas dan kebetulan belut juga fototaksis negative (tidak menyukai cahaya).
  20. Cara lain untuk untuk menumbuhkan plankton pada media tanam belut yaitu dengan memberinya “Vitamin”, Vitamin ini kita bisa membikin sendiri yang terdiri atas :a.Tepung kacang hijaub.Tepung kedelai. c.Tepung beras. d.Sayur-sayuran (seperti sawi, daun ketela, bayam, sedikit daun papaya, dll)e.Air kelapa yang masih segar.Kesemua bahan tersebut diblender kemudian disaring dan airnya disiramkan ke penampungan benih atau kolam karantina, dibiarkan selama 2 ~ 3 jam baru airnya diganti.
  21. Usahakan membawa benih pada malam hari dan menabur benih pada malam hari itu juga karena kondisi media dinginnya masih panjang dan udara di luar media masih dalam keadaan sejuk.
  22. Apabila ditemukan bibit belut yang mati segera keluarkanlah dari dalam kolam. Apabila membusuk dan empedunya pecah serta darahnya keluar, akan meracuni belut lainnya. Kalau perlu apabila ada yang sudah membalikkan badannya, hendaknya segera diambil sebelum mereka mati.
  23. Pada masa adaptasi dari tebar benih jangan memasukkan air secara besar (menggerojok) karena posisi benih pada saat itu masih disekitar permukaan (± 20 cm di bawah lumpur). Kalau sudah keluar sulit bagi mereka untuk masuk kembali ke lumpur karena kondisinya masih dalam keadaan lemah, ini yang menimbulkan banyaknya kematian.
  24. Belut harus dipaksa mau makan. Berikan pakan yg berselang-seling menurut selera mereka dan jangan diganti kalau mereka masih mau makan dengan jenis pakan tersebut. Gantilah pakan dengan jenis lain apabila mereka sudah bosan dengan pakan yang biasa kita berikan.
  25. Berikanlah pakan yang ukuran pakan tersebut lebih kecil dari mulut belut yang kita pelihara, baik dengan cara dicacah maupun dihancurkan.
  26. Untuk menarik / merangsang belut mau makan hendaknya dipancing dengan pakan yang segar dan berbau amis seperti :oCacahan yuyu oCacahan cacing merah atau cacing lumbricusoCacahan lambung katak hijau
  27. Apabila ada kematian benih setelah tebar, kondisi kolam dialiri air mengalir kecil dan diberi jamu empon-empon (campuran biang dan jamu)
  28. Untuk tumbuhan air bisa memakai enceng gondok atau kiambang. g gondoknya, maka akan semakin tercemar perairan tersebut. Tapi apabila semakin kurus Jangan menggunakan kangkung air karena akarnya dapat mengeringkan lumpur. Enceng gondok berfungsi menyerap zat racun yang ada perairan, zat-zat racun diserap melalui akar dan disimpan dalam batang yang menggelembung. Jadi kalau semakin subur encentanaman enceng gondoknya, maka akan semakin subur perairannya.
  29. Hewan-hewan renik air sebenarnya tidak begitu kita perlukan karena benih belut yang berada di pasaran atau yang biasa kita tanam besarnya seukuran jari kelingking (finggerling). Namun dikarenakan setelah pemeliharaan menginjak 2.5 bulan keatas biasanya akan keluar anakan (benih) belutnya. Hal ini yang harus kita pikirkan agar media pemeliharaan tetap tersedia hewan-hewan renik.Dan bentuk pakan yang kita berikan sebaiknya selain berukuran besar untuk belut besar juga berbentuk remahan untuk makan anakannya yang kecil-kecil
  30. Jangan memberi pakan yang terlalu besar yang melebihi ukuran mulutnya, karena belut bersifat menarik dan menyimpan makanannya kedalam lubang-lubang persembunyiannya sehingga mereka harus menunggu sampai menunggu agak lunak hingga bisa dimakan.
  31. Bersabarlah melatih mereka keluar lubang persembunyiannya sebelum memberi makan sehingga mereka akan terbiasa keluar lubang menanti makan yang kita berikan. Jadi ini lebih mengefisienkan pakan, karena di daerah Batang Jawa Tengah ada petani belut yang bisa melatih belut-belut mereka untuk keluar menunggu majikannya memberi makan
  32. Jangan mengganggu belut selama masa pemeliharaan, misalnya mengaduk-aduk media atau memasuk-masukkan galah ke dalam kolam karena belut sangat mudah stress.
  33. Baik benih maupun hasil panen, jangan terlalu banyak tersentuh oleh tangan. Mereka mudah stress bila tersentuh oleh tangan. Upayakan menggunakan seser (jaring kecil) pada saat memindahkan benih atau menggunakan alat saring khusus (alat sortir) pada saat panen agar tidak terlalu banyak dipegang-pegang tangan.
  34. Jangan memberi pakan belut dengan cacing tanah berjenis cacing kalung di beberapa petani di daerah Demak jawa tengah dan Batang Jawa Tengah setelah cacing tersebut diumpankan, belutnya banyak mengalami kematian.
  35. Apabila di kolam pemeliharaan terdapat lumut yang berwarna hijau hendaknya segera diambil dengan cara air baru dimasukkan , setelah agak tinggi permukaan lumpur yang ada lapisan lumpurnya disemprot untuk dikeluarkan.
Cara Beternak Belut Sawah | Admin | 4.5
Leave a Reply